Tuesday, July 9, 2013

Dampak Kekerasan Di Televisi Terhadap Anak

Ruh4dian - Berbagai riset dari tahun ke tahun senantiasa menyimpulkan bahwa kekerasan di televisi membawa dampak psikologis yang kompleks terhadap perkembangan jiwa anak dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, orang tua wajib mengetahui, mewaspadai, dan mengambil tindakan sesuai keadaannya sebagai bentuk perlindungan terhadap anak-anaknya. Hasil-hasil studi itu antara lain, sebagai berikut.

Dampak Kekerasan Di Televisi Terhadap Anak

Studi Tahun 1982 dari National Institute of Mental Health: "Kekerasan di televisi menyebabkan perilaku-perilaku agresif pada anak-anak dan remaja yang menonton acara tersebut."
 
Dr. Leonard Eron dari University of Illinois: "Anak-anak yang menyaksikan kekerasan dalam televisi dalam waktu lama, sejak masih sekolah dasar, cenderung menunjukkan perilaku agresif dalam tingkat yang lebih tinggi."
 
The Position Statement on Media Violence in Children's Live dari National Associations for Education of Young Children: "Anak-anak pra sekolah rentan terhadap aneka pengaruh negatif dari media karena mereka belum mempu sepenuhnya untuk membedakan antara fantasi dan realitas."
 
The American Academy of Pediatric: "Telah terkumpul data yang memadai untuk membenarkan kesimpulan bahwa aktivitas menonton televisi yang berlebihan merupakan salah satu penyebab perilaku kekerasan atau agresivitas."
 
The National Coalition of Television Violence: "Sebagian besar permain nintendo (atau permainan yang semacamnya) mempunyai dampak yang cukup berbahaya terhadap jiwa anak-anak."

Untuk membuktikan kebenaran temuan dari berbagai riset tersebut, para orang tua sebaiknya memperhatikan bagaimana reaksi anak-anaknya. Namun demikian, ada beberapa ahli menyatakan beberapa reaksi yang biasa muncul terhadap anak-anak yang berlebihan ketika menonton kekerasan di televisi, di antaranya:
  • Desentivisasi
Kekerasan di televisi mempu menciptakan kesan bahwa tindakan agresi dan permusuhan itu biasa dan bisa diterima. Jika hal ini terjadi, maka anak-anak menjadi kehilangan rasa empati terhadap penderitaan orang lain. Mereka tidak berusaha untuk mencegah tindakan-tindakan kekerasan dan lamban dalam bereaksi terhadap penderitaan orang lain. 

  • Aktivitas meniru
Anak-anak akan meniru apa yang mereka lihat di  televisi. Jika karakter-karakter yang ada di televisi itu menyelesaikan semua persoalan dengan kekerasan, maka anak-anak akan berlaku demikian. Kekerasan di televisi mengajarkan anak-anak bahwa konflik harus diselesaikan dengan kekuatan. Anak-anak yang melihat acara-acara kekerasan, cenderung tidak patuh, mudah membantah, dan memukul teman-temannya. Akibatnya, kemampuan mereka dalam memecahkan masalah yang dihadapi biasanya lemah.
 
  • Rasa takut berlebihan
Aktivitas menonton banyak acara kekerasan di televisi yang terlalu sering akan mengakibatkan anak-anak memandang dunia sebagai tempat yang penuh permusuhan dan tidak aman. Sehingga, ketika anak-anak menonton adegan brutal di televisi, mereka selalu berkata, "Jangan matikan lampu, aku takut!" Kejadian seperti ini menurut Dr. George Gerbner dari University of Pennsylvania disebut "Sindrom dunia picik."