Go Green

Hukum Menikah Dalam Islam

Hukum Menikah Dalam Islam
Ruh4dian - Menikah dalam pandangan Islam merupakan tempat berseminya sakinah, mawaddah dan rahmah, tempat memelihara manusia dan keturunannya. "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia telah menjadikan dari dirimu sendiri pasangan kamu, agar kamu hidup tenang bersamanya dan Dia jadikan rasa kasih sayang sesama kamu. Sesungguhnya dalam hal itu menjadi pelajaran bagi kaum yang berfikir." (Al-Qur'an surat Ar-Ruum ayat 21)

Adapun dalam pembagian hukum menikah, ahli fiqih membaginya menjadi lima bagian, yaitu:

1. Wajib (Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan mendapatkan dosa)
 
Imam Qurthuby menerangkan, bagi pemuda yang mampu menikah, ingin menjaga diri dan agamanya, menikah wajib baginya. "hai golongan pemuda! Bila di antara kamu ada yang mampu menikah hendaklah ia menikah, karena nanti matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

2. Sunah (Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa)
 
Mayoritas ahli fiqih berpendapat, ketika seseorang mempu menikah, dapat menahan dirinya untuk tidak berbuat zina, sunah baginya untuk menikah. Ia masih bisa menundanya, tetapi tetap membentengi diri dan menjaga kesucian dengan shaum (puasa). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya) sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya." (Al-Qur'an surat An-Nur ayat 33). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Dan bila ia belum mampu menikah, hendaklah ia bershaum (berpuasa) karena shaum ibarat perisai." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

3. Haram (Suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan mendapat pahala dan apabila dikerjakan mendapat dosa)
 
Menikah itu menjadi haram manakala seseorang tidak mampu memberi nafkah lahir dan batin kepada pasangannya, dan jika pernikahan tersebut akan membahayakan pasangannya. Imam Qurthuby berkata: "Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai istrinya atau membayar maharnya atau memenuhi hak-hak istrinya, maka haram menikah. Begitu pula jika ia tak mampu menggauli istrinya, maka wajiblah ia menerangkan agar pasangannya tidak tertipu olehnya.".

4. Makruh (Suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan mendapat pahala, dan apabila dikerjakan tidak mendapat dosa)
 
Hukum menikah menjadi makruh bagi seseorang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi nafkah pada istrinya. Tetapi, bila istri rido akan hal tersebut, maka tidak merugikan istrinya.

5. Mubah (Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan atau ditinggalkan sama saja tidak mendapat pahala atau dosa)
 
Hukum mubah ini berlaku bagi orang yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mewajibkannya segera menikah atau alasan-alasan yang mengharamkannya menikah.

Wallahu a'lam bishshawwab
Gunakan tombol di bawah ini bila bermanfaat!