Go Green

Solusi Dari Dampak Kekerasan Di Televisi Terhadap Sang Anak

Ruh4dian - Dampak dari kekerasan di televisi terhadap sang anak memang menimbulkan dampak psikologis negatif yang sering kali meresahkan orang tua. Bahkan, budaya dan kebiasaan untuk menonton televisi seharian di waktu libur atau jam-jam yang kosong sudah menjadi aktivitas. Dengan memberi pengertian yang dapat menarik simpati, maka kemungkinan anak dapat memahami apa yang dinasihati orang tuanya.

Solusi Dari Dampak Kekerasan Di Televisi Terhadap Sang Anak

Berusahalah terlebih dahulu untuk menarik simpati mereka. Jangan asal marah-marah, misalnya, "Tiap hari nonton televisi saja! Itu cuma bohong tahu. Sudah matikan televisinya dan tidur!". Jika hal ini dilakukan setiap saat, maka kemungkinan anak bukannya semakin patuh, tetapi malah berani melawan, minimal menjawab terus setiap kata-kata orang tuanya. Tentu saja, hal seperti ini bukanlah yang kita inginkan. Oleh karena itu, ada baiknya dicoba upaya berikut dan alangkah baiknya jika disesuaikan dengan budaya setempat.

  • Batasi aktivitas menonton televisi
Dengan membatasi aktivitas menonton televisi, orang tua akan segera menemukan bahwa membatasi waktu menonton televisi anak-anak setiap harinya adalah tindakan yang bijaksana.

  • Evaluasi acara televisi
Lakukanlah evaluasi terhadap semua acara yang ditonton oleh anak. Kemudian, buat dan pilih metode efektif dalam mengurangi reaksi negatif anak terhadap kekerasan di televisi. Salah satu contoh tindakannya adalah dengan mendampingi anak-anak saat menonton acara televisi. Upaya ini cukup efektif untuk dilakukan oleh para orang tua. Misalnya, acara di televisi sedang menampilkan film seri yang bercerita tentang komplotan obat bius. Pada saat itu adegannya terlalu brutal. Polisi menendang pintu, memporak-porandakan perabot, dan terjadi baku tembak antara polisi dengan penyalur obat bius tersebut yang tidak mau ditangkap. Ketika itu ajak sang anak untuk menonton acara yang lebih baik dan berikan alasan dengan cara yang lembut, seperti "Ibu tidak tega melihat orang disakiti, kan masih ada acara yang lebih baik.".

  • Ajarkan daya kritis
Ajarkan kemampuan kepada sang anak untuk menonton televisi secara kritis. Misalnya, ketika orang tua mendampingi anaknya menonton televisi dan melihat acara kekerasan di televisi, segera ingatkan anak. "Tokoh-tokoh dalam televisi itu hanya pura-pura memukul orang. Jadi, tidak membuat mereka sakit sama sekali. Ini seperti kamu memainkan adegan sandiwara di sekolah. Tapi, jika orang yang sungguhan itu memukul orang lain, maka akan terasa sakit.". Penjelasan dan pengertian yang diberikan orang tua akan membuat sang anak dapat memahami adegan kekerasan ataupun aksi di televisi itu tidak nyata.
 
  • Jelaskan perbedaan antara fantasi dan realitas
Anak-anak adalah pribadi yang masih polos daya imajinasinya. Sehingga, karena imajinasi yang polos inilah, anak-anak cenderung mendapatkan masalah akibat terlalu sering menonton kekerasan di televisi dalam karakter-karakter kartun. Dan, persentase tayangan film-film kartun di televisi kian hari kian bertambah karena sangat diminati anak-anak. Bahkan, remaja pun masih banyak yang suka, sehingga kadang menimbulkan obsesi yang berlebihan.

Saat menonton film kartun-kartun tersebut, coba tanyakan kepada anak-anak sebagai pembuka perbincangan untuk membedakan apakah film dan adegan di dalamnya itu sungguhan atau hanya fantasi. Misalnya, dengan pertanyaan, "Apakah jika terjadi perampokan di sekitar sekolah atau rumah kita, Batman akan datang untuk menolong?". Jika anak bingung dan jawabannya mengada-ada, coba jelaskan realitasnya! Misalnya, "Kartun adalah sebuah film buatan manusia yang jika dipukul tidak akan merasa sakit. Kamu tentu bisa melihat, bila si Batman ditabrak mobil dan ditembaki, ia tidak kesakitan, kan? Buktinya, besok dia main lagi di televisi. Apa yang dilakukan tokoh-tokoh di film kartun itu jangan sampai ditiru! Semua adegan aksi film itu hanya rekaan, tidak boleh ditiru. Jadi, kamu harus bisa menghindarinya."
Gunakan tombol di bawah ini bila bermanfaat!