Sunday, September 1, 2013

Pembagian Manusia Berkaitan Dengan Taubat

Pembagian Manusia Berkaitan Dengan Taubat
Ruh4dian - Menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya yang mengupas tentang taubat, mengutip pengarang buku Qutul Qulub, yang menjelaskan pembagian manusia berkaitan dengan taubat. Taubat dibagi empat golongan, dan setiap golongan mempunyai kedudukan tersendiri.
1. Orang yang bertaubat dari dosa kemudian tidak terbesit di dalam hatinya untuk mengulang kedurhakaannya, tetapi mengganti keburukan-keburukannya dengan amal shaleh. Inilah yang disebut taubatan nashuha. Sebagaimana yang dufirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala: "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: 'Ya Rabb kami, semprnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al-Qur'an surat At-Tahrim ayat 8). 
Jiwa orang semacam ini adalah jiwa yang rido dan penuh ketentraman (muthmainnah mardhiyah). "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridoi-Nya. Maka masuklah ke jannah hamba-hamba-Ku, masuklah ke surga-Ku." (Al-Qur'an surat Al-Fajr ayat 27-30).

2. Orang yang berusaha untuk tidak berbuat dosa, tekadnya tidak ingin melakukan tapi tidak dapat menghindarinya, boleh jadi ia terpengaruh oleh keburukan dan kesalahannya, tapi cepat sadar untuk bertaubat kembali, dia termasuk orang yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala: "(Yaitu) Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil." (Al-Qur'an surat An-Najm ayat 32). 
Ini disebut jiwa lawwamah, sering tarik-menarik antara melakukan kesalehan dan keburukan (sepanjang dosa itu tidak termasuk kategori dosa besar), ia selalu kembali minta ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 
Orang ini sering berdo'a dan meminta ampun pada Allah karena sadar dirinya sering menganiaya dirinya sendiri, sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala: "Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?" 
Di antara dosa besar itu sebagian diterangkan dalam Al-Qur'an surat Al-Furqan ayat 68.

3. Orang yang berdosa lalu bertaubat, kemudian berdosa lagi, lalu menyesalinya. Dia melakukan itu dengan sadar dan sengaja, lebih mementingkan dosa daripada ketaatan, selalu berandai-andai untuk bertaubat. Lebih banyak digerakkan hawa nafsunya, dikuasai kebiasaan dan kelalaiannya. Memang dia bertaubat di sela-sela dosa yang dilakukannya, akan tetapi mengulangi lagi dosanya. Taubatnya hanya menghapus kesalahan dari satu waktu ke lain waktu. 
Ini disebut jiwa musawwilah, yaitu mencampur amal saleh dengan keburukan, orang semacam ini masih bisa diharapkan kesalahan-kesalahannya yang lampau terhapus oleh kebaikannya. Tapi keadaan ini dikhawatirkan akan berubah-ubah karena ia terus-menerus melakukan kesalahan.

4. Orang yang keadaannya paling buruk adalah orang yang berbuat dosa lalu mengulang dosa yang sejenisnya atau bahkan melakukan yang lebih besar, tidak berniat bertaubat, tidak berjanji untuk berubah, tidak takut ancaman dan peringatan. 
Ini disebut jiwa ammarah, ruhnya senantiasa melarikan diri dari kebaikan, tidak takut su'ul khatimah (kesudahan yang buruk). Orang semacam ini banyak didapatkan di kalangan muslim.

Semoga kita dapat terhindar dari sandungan yang akan menjauhkan penerimaan taubat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semoga kita termasuk golongan yang senantiasa bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) berkat karunia dan rahmat-Nya. Amin. Wallahu a'lam bishshawwab