Go Green

Perintah Mengajarkan Dan Mendirikan Ibadah Shalat

Perintah Mengajarkan Dan Menjalankan Ibadah Shalat
Ruh4dian - Pedoman Islam dalam membiasakan anak untuk melaksanakan shalat telah diuraikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits: "Suruhlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat jika mereka sudah berusia tujuh tahun. Dan jika mereka sudah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka jika tidak mau melaksanakan shalat dan pisahkanlah tempat tidur mereka." (Hadits riwayat Al-Hakim dan Abu Daud)

Dengan berpedoman pada hadits itulah, maka akan dapat diperoleh beberapa poin penting tindakan yang harus diupayakan orang tua demi memperoleh hasil yang terbaik. Yang perlu diingat, orang tua harus pandai-pandai mengambil makna yang tepat, yaitu tidak terlalu ketat dan berlebihan, namun juga tidak terlalu diringan-ringankan atau terlalu longgar.

Pada zaman sekarang, sudah tidak sesuai lagi melatih anak untuk melaksanakan shalat dengan bekal rotan sebagai cambuk di tangan. Pengalaman pahit masa kecil ketika mendapat dera cambuk,  pukulan, atau sekedar cubitan yang diingat oleh banyak orang tua, justru banyak membuat mereka trauma. Pandangan mereka terhadap pendidikan shalat menjadi negatif, bahkan mereka mungkin menolak untuk mengajarkanya sama sekali kepada anak-anaknya dengan dalih khawatir anak-anaknya mengalami pengalaman pahit serupa. Apalagi, ada yang menganggap shalat bisa dilatih nanti saja, setelah mereka mengerti dengan sendirinya.
 
1. Usia Tepat Hasil Mantap
Penetapan usia tujuh tahun sebagai awal pendidikan rutinitas shalat sudah sangat tepat dengan perkembangan psikologis anak pada usia tersebut. Di usia tujuh tahun, anak sudah mulai senang untuk belajar tertib. Mereka mulai mudah diberi pengertian dan bisa berbuat segala sesuatu berdasarkan pengertian tersebut, bukan sekedar menuruti perintah orang tua.

Di lain pihak, pendapat melatih shalat akan semakin baik jika dilakukan sedini mungkin, tidak seluruhnya benar. Jika sekedar mencontohkan shalat dan memotivasi anak untuk meniru-niru dapat dilakukan sedini mungkin. Tetapi, untuk mengharap agar anak mulai bisa berlatih dengan rutin, mereka yang masih di bawah usia tujuh tahun belum akan siap.

Jika ada beberapa anak di bawah usia tujuh tahun sudah mulai bisa shalat, itu mungkin karena keinginan meniru sangatlah kuat, bukan didasarkan atas pemahaman yang dimiliki. Oleh karena itu, dalam waktu tak lama kegiatan shalat pun akan membosankan mereka. Kebutuhan mereka untuk bermain dan bersenang-senang masih terlalu besar, sementara keinginan untuk mengikuti sebuah aturan masih sangat minim.

Memaksa anak untuk mulai shalat secara rutin terlalu dini dapat berakibat mendorong mereka untuk berbuat tidak jujur. Hal ini juga dapat berakibat mematahkan keinginan anak. Selanjutnya, anakmenjadi bersikap pasif, tidak berani menyatakan keinginannya, tidak kreatif, dan hanya menunggu perintah dari orang lain.

2. Pembiasaan Diri
Metode yang disarankan untuk mengajarkan shalat sesuai dengan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yaitu pembiasaan.

Upaya pembiasaan ini pun tidak sebentar. Rantang waktu yang ditetapkan Islam adalah dari tujuh hingga sepuluh tahun. Hal ini menggambarkan betapa sulitnya upaya pembiasaan yang akan dilakukan orang tua. Pengorbanan besar orang tua, khusunya seorang ibu, sangat dibutuhkan. Orang tua mana pun akan kecewa di kemudian hari jika menyepelekan hal ini.

Mencari sekolah yang mendukung upaya pembiasaan merupakan hal yang baik dan perlu. Beberapa sekola dasar mengadakan program shalat berjamaah bagi siswanya pada saat-saat tertentu. Bagi sekolah yang terprogram sehari penuh, justru ada kesempatan besar untuk membiasakan siswa shalat berjamaah bersama teman-temannya dengan gembira.

Pembiasaan dirumah adalah dengan mencarikan teman bagi anak untuk shalat ke Masjid bersama-sama, sehingga akan menciptakan suasana menyenangkan. Hal ini pun dapat dilakukan di rumah dengan melibatkan seluruh anggota keluarga.

3. Melawan Hambatan Dengan Kesabaran
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya..." (Al-Qur'an surat Taha ayat 132)

Perintah untuk bersabar termasuk resep khusus dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam menjalankan tugas untuk mengajarkan shalat. Ayat di atas menggambarkan bahwa dalam upaya pengajaran tersebut akan menghadapi banyak hambatan dalam memotivasi anak-anak untuk belajar shalat.

Kesalahan demi kesalahan anak masih sering terjadi berulang-ulang. Misalnya, tidur telalu larut, sehingga, mereka marah jika dibangunkan untuk melaksanakan shalat Subuh. Terus-terusan bermain hingga lupa waktu shalat Dzuhur telah habis. Menunda shalat Maghrib demi menonton acara (film) di televisi. Mununda shalat Isya' dengan alasan cape dan memilih untuk berbaring-baring hingga akhirnya tertidur.

Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan serupa, anak memang memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa sampai bertahun-tahun. Oleh karena itu, diberikan rentang waktu tiga tahun untuk melakukan pembiasaan shalat ini. Keharusan bersabar pun tidak hanya beberapa bulan saja, akan tetapi mungkin bertahun tahun, dan bahkan untuk sepanjang waktu.


Wallahu a'lam bishshawwab
Gunakan tombol di bawah ini bila bermanfaat!