Go Green

Hak Anak Dalam Islam

Hak Anak Dalam Islam
Ruh4dian - Pembahasan tentang hak anak dalam Islam secara umum mengacu pada dharuriyyatu sittah (hak asasi dalam islam). Hak tersebut terbagi dalam beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai hak setiap orang, yaitu sebagai berikut.
  • Pemeliharaan atas hak beragama (hifzhud dien).
  • Pemeliharaan atas jiwa (hifzhun nafs).
  • Pemeliharaan atas akal (hifzhul aql).
  • Pemeliharaan atas harta (hifzhul mal).
  • Pemeliharaan atas keturunan atau nasab (hifzhun nasb).
  • Pemeliharaan kehormatan (hifzhul 'ird).

Jika merinci hak-hak anak yang diperoleh dari orang tua atau otoritas lain yang menggantikan orang tua, maka kita akan dapati bahwa hak-hak anak tersebut merupakan penjabaran dari dharuriyyatu sittah. Misalnya, hak anak untuk mendapatkan nama dan keturunan nasab, maka itu ada dalam pemeliharaan atas nasab dan kehormatan, hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dapat dimasukkan ke dalam pemeliharaan atas agama (mendapatkan pendidikan berakhlak baik) dan pemeliharaan atas akal, dan seterusnya.

Islam pun telah memberi penjelasan sedemikian rupa hingga kemasalah perkembangan yang optimal bagi jiwa anak. Misalnya, ketika membicarakan masalah badhanah (pengasuhan anak menyangkut anak di bawah usia tiga tahun) dan radha'ah (penyapihan menyusui). Dalam masalah badhanah anak diutamakan untuk berada dalam perawatan ibunya. Jika ibu tidak ada atau berhalangan tetap, maka kedudukannya digantikan orang-orang yang terdekat dengan ibunya, yaitu saudara-saudara perempuan dari ibunya, nenek dari ibunya, dan seterusnya. Sebaiknya anak disusui sampai usia tiga puluh bulan (sedikit lebih dari dua tahun).

Dalam ilmu psikologi dijelaskan bahwa anak usia kurang dari tiga tahun adalah masa pembentukan kepribadian yang amat menentukan. Akan tetapi, jika anak mengalami gangguan, maka dapat berpotensi menyebabkan anak menjadi bermasalah di masa mendatang (depan). Namun dalam hal ini, Islam telah memastikan dengan aturannya sejak berabad-abad yang lalu bahwa seorang anak harus diasuh oleh ibunya dan tidak diganggu pengasuhannya sampai waktu yang cukup.

Contoh Kasus Di Zaman Rasulullah

Diriwayatkan bahwa di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ada seorang wanita yang mengaku telah berzina dan meminta dihukum rajam. Saat itu ia diketahui sedang hamil. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian menyuruhnya memelihara kandungannya sampai ia melahirkan. Setelah melahirkan, wanita tersebut sekali lagi mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Akan tetapi, sekali lagi beliau menangguhkan hukumannya agar wanita itu dapat menyusui anaknya sampai usia dua tahun. Setelah disapih, barulah wanita tersebut dihukum rajam hingga meninggal.

Demi hak anak, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menangguhkan sebuah hukuman yang secara mutlak disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu hukuman bagi pezina.

Hak anak yang lain adalah hak untuk diakui nasabnya yang seseungguhnya. Jika seorang anak diangkat oleh orang lain, maka pengangkatan tersebut tidak boleh sampai menyebabkan anak tersebut kehilangan nama ayah kandungnya. Dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengangkat nama Zaid bin Haritsah. Pada awalnya, orang-orang menyebutnya Zaid bin Muhammad, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menegur, dan Zaid pun kemudian disebut Zaid maula Muhammad. Maula adalah sebutan untuk anak angkat atau anak yang diurus oleh bukan orang tua kandungnya.

Sebagaimana kita ketahui, kehormatan seseorang sering dikaitkan dengan keturunan siapakah dia. Jika seorang anak dikenal sebagai anak tak berbapak, maka hampir pasti ia akan mengalami masalah besar dalam pertumbuhan kepribadiannya kelak, karena ketidakjelasan status keturunan.

Demi menjaga hal tersebut, Islam melarang seseorang menghapus nasab atau nama keturunan dari ayah kandungnya. Selain masalah psikologis dan perkembangan kepribadian anak, masalah nasab atau keturunan juga berkaitan dengan muharramat, yaitu aturan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi (dianggap incest atau menikah seketurunan).

Hak harta anak dari ayah yang meninggal juga diatur dalam Islam. Aturan waris Islam menetapkan jika seseorang ayah meninggal, dan anaknya masih dalam kadungan, maka pembagian warisnya ditunda sampai si anak lahir dan diketahui nasabnya, apakah lahir hidup ( berarti mendapatkan warisan) atau mati, dan apakah laki-laki atau perempuan.

Ketelitian dalam pendidikan kepribadian anak dalam Islam sangat dijaga sedemikian rupa, bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang keras seseorang berbohong kepada anak. Diriwayatkan bahwa seorang ibu pernah berkata kepada anak anaknya di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: "Mari sini, Nak, akan ku beri sesuatu." Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkomentar: "Apakah engkau akan memberinya sesuatu? Jika tidak, niscaya engkau akan dicatat sebagai pendusta."

Begitulah Islam, perhatian yang sangat besar dalam kemaslahatan perkembangan kepribadian anak. Sebab kepribadian muslim yang kuat, baik dalam keimanan, kejiwaan, maupun akhlak adalah modal utama bagi anak untuk hidup sukses di dunia dan akhirat kelak. Dalam Islam tidak ada perbedaan yang mendasar dengan konvensi. Letak perbedaannya terdapat pada rincian butir-butir dan landasan berpikirnya. Hak anak dalam Islam dijelaskan secara rinci melalui contoh-contoh hidup keseharian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dapat dipelajari melalui hadits-hadits beliau. Sedangkan, konvensi hak anak terperinci dalam bahasa hukum positif.

Hal yang tak kalah penting adalah perhatian kita dalam masalah praktik, penerapan konvensi, atau pun hukum apa pun secara nya. Hal yang sama juga berlaku pada penerapan dalil-dalil Islam itu sendiri. Sebagai muslim, kita selalu diingatkan tentang kedudukan niat dan pentingnya amal. Niat akan menentukan seberapa jauh diterima atau tidaknya amal kita di hadapan Allah. Dan niat juga akan menentukan nasib amal kita di akhirat kelak. Wallahu a'lam bishshawwab
Gunakan tombol di bawah ini bila bermanfaat!