Go Green

Kewajiban Memperdalam Ilmu Agama

Ruh4dian - Dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu 'anhu, bahwasannya ia telah berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Mancari ilmu itu merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang Islam."

Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud denga hadits "Mencari ilmu itu merpakan suatu kewajiban bagi setiap orang Islam" adalah jika tidak ada seorang pun dari penduduk suatu daerah ataupun wilayah yang melaksanakan perintah tersebut di atas. Dengan demikian, maka hukum fardhu (kewajiban) di sini, sama dengan fardhu kifayah, yaitu apabila ada seseorang ataupun sebagian orang yang melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban tersebut bagi kaum muslimin lainnya.

Mujahid bin Musa menerangkan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam "Mancari ilmu itu merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang Islam" tersebut di atas sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Sofyan bin 'Uyainah, bahwa apabila ada sebagian dari kaum muslimin yang telah mencari ilmu pengetahuan, maka tidak diwajibkan bagi semua kaum muslimin. Sebagaimana halnya shalat jenazah, apabila ada sebagian kaum muslimin yang melaksanakan shalat jenazah, maka kaum muslimin yang lain terbebas dari kewajiban tersebut dan mereka tidak berdosa.

Sedangkan menurut pendapat Sofyan bin 'Uyainah, yang dimaksud dengan kewajiban dalam hadits tersebut di atas adalah kewajiban mendalami hukum-hukum fikiq yang berkenaan dengan cabang-cabang agama.

Sementara ilmu ushuluddin, ilmu pokok-pokok agama, yaitu ilmu yang membahas tentang keesaan Tuhan dan sifat-sifat-Nya, sifat para rasul, dan para malaikat adalah suatu ilmu yang harus diketahui dan dipelajari oleh setiap muslim, baik itu pria ataupun wanita.

Ibnu Mubarak menerangkan maksud dari hadits Nabi Muhammad SAW tersebut di atas, yaitu apa yang sebaiknya dilakukan oleh seseorang. Tentunya, hal inilah sebaiknya yang memotivasi manusia untuk mempelajari suatu ilmu.

Seseorang yang tidak mempunyai harta, umpamanya, maka tidak wajib baginya untuk mempelajari ilmu yang berkenaan dengan zakat. Sebaliknya, apabila ada seseorang yang mempunyai uang 200 dirham, maka sudah selayaknya ia mempelajari hukum zakat, sehingga ia dapat memahami dengan baik berapa yang harus dizakatkan, kapan, kepada siapa harus disalurkan dan lainnya.

Pernah pada suatu hari, Ali bin Abu Thalib kedatangan seorang tamu yang bertanya kepadanya. "Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya saya ingin berniaga. Maka apa yang harus saya lakukan pertama kali?" Ali bin Abu Thalib langsung menjawa, "Kamu harus mengetahui hukum-hukum agama sebelum kamu berniaga. Karena, barang siapa yang berniaga sebelum mengetahui hukum-hukum agama, maka dikhawatirkan ia akan terjerumus dalam praktek riba."

Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal, bahwasanya ia telah berkata, "Aku pernah bertanya kepada ayahku, 'Apakah seorang muslim wajib mencari ilmu?' Lalu ayahku menjawab pertannyaanku, "Ya, tentu saja. Seorang muslim harus mempelajari dan mengetahui ilmu tentang tata cara shalat, puasa, zakat, dan permasalahan agama lainnya."

Maka sudah selayaknya setiap orang Islam, baik itu lelaki ataupun perempuan, mempelajari ilmu agama, seperti tentang cara bersuci, tata cara shalat, dan puasa, yang mana hal tersebut telah menjadi kewajiban bagi dirinya.

Demikian pula halnya wajib bagi setiap orang Islam, baik lelaki ataupun perempuan, untuk mengetahui perkara yang halal dan yang haram bagi dirinya dalam hal makanan, pakaian, harta benda, dan lain sebagainya. Semua yang telah disebutkan di atas, pada prinsipnya tidak boleh diabaikan begitu saja. Akan tetapi, wajib bagi seluruh kaum muslimin untuk mempelajari dan memahaminya dengan baik, terlebih lagi bagi mereka yang telah akil baligh.

Maka sudah seyogyanya seorang pemimpin menganjurkan para suami untuk mengajarkan ilmu agama kepada istri-istri mereka, sehingga mereka dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan baik.

Sudah menjadi kewajiban bagi para ulama untuk mengajarkanumatnya yang belum memahami permasalahan agama, sehingga mereka dapat membedakan anatara yang hal dan yang batil, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali bin Abu Thalib RA, "Allah SWT tidak akan mengadakan suatu perjanjian dengan orang-orang yang bodoh untuk mencari ilmu, hingga Dia mengadakan suatu perjanjian dengan orang-orang yang berilmu untuk mengajarkan ilmunya kepada orang-orang bodoh tersebut. Karena bagaimanapun, orang yang berilmu akan dimintai pertanggung jawabannya terlebih dahulu sebelum orang yang bodoh."

Nah, itulah artikel tentang "Kewajiban Memperdalam Ilmu Agama". Apabila ada kritik, saran ataupun hal-hal lainnya, harap menghubungi Admin :) Semoga artikel ini bermanfaat! Wallahu a'lam bishshawwab
Gunakan tombol di bawah ini bila bermanfaat!