Friday, May 2, 2014

Cara Melindungi Anak Dari Aksi Kejahatan Seksual

Cara Melindungi Anak Dari Aksi Kejahatan Seksual
Ruh4dian - Kejahatan terhadap anak akhir-akhir ini sedang marak terjadi. Para orangtua sebenarnya dapat menandai orang-orang yang mempunyai maksud untuk melakukan kejahatan kepada anaknya, khususnya kejahatan seksual. Dengan cara tersebut tentu para orangtua dapat mencegah hal-hal yang tak diinginkan untuk kedepannya.

Nah, para penjahat seksual biasanya (sebelum beraksi) mereka akan melakukan berbagai persiapan untuk mengamankan aksinya agar tidak ketahuan. Psikolog yang juga merupakan pendiri pusat studi dan aplikasi psikologi komunikasi bawah sadar menuliskan bahwa pada saat pelaku kejahatan seksual mulai beraksi, kita bisa menandai dan melindungi (melakukan perlindungan) sebelum jatuh korban. Cara predator seksual beraksi terbagi menjadi dua, yaitu pertama mereka yang melakukan pendekatan terlebih dahulu dan kedua mereka yang melakukan serangan secara mendadak. Adapun langkah-langkah yang dipersiapkan oleh pelaku penjahat seksual sebelum beraksi ialah, sebagai berikut.

1. Pemilihan target (korban)

Pelaku tindak kejahatan seksual selalu mengamati gerak-gerik anak-anak yang menjadi targetnya pada saat anak-anak tersebut sedang bermain atau beraktivitas. Pelaku sering menandai mana anak-anak yang mudah ditundukkan atau dikendalikan dan mana yang tidak. Anak-anak yang percaya diri, kritis, dan berani bukanlah target pilihan mereka. Sedangkan anak-anak yang nampak lemah, pemalu, penyendiri, penurut menjadi target pilihan kesukaan mereka. Untuk memastikan ketepatan target yang dipilih, pelaku akan mengetes targetnya melalui sentuhan. Pelaku berpura-pura menyentuh atau mengelus tubuh calon korban. Awalnya di bagian terbuka seperti tangan yang terbuka lalu merambat bagian lain seperti punggung, paha, dan seterusnya. Jika korban hanya diam saja tidak melawan ataupun menghindari sentuhan tersebut, pelaku akan menandainya sebagai sinyal persetujuan. Sebaliknya jika anak menjauh, memutar tubuhnya atau menepis tangan pelaku, maka pelaku akan menandai korban sebagai anak yang tidak mudah ditaklukkan, sehingga pelaku akan mencari korban lain.

Terkadang orang-orang dewasa, terutama para orang tua perlu memberikan ketenangan dan sentuhan pada anaknya. Namun cara sentuhan intim seperti mengelus dan menggerayangi bukanlah sentuhan yang bermakna baik. Elusan lebih dari 2 sampau 3 menit apalagi di area yang bukan semestinya harus membuat para orang tua segera mewaspadai akan situasi yang tidak beres. Psikolog juga menambahkan bahwa para orang tua harus memberitahu anak mereka untuk menjauh dan menepis tangan orang yang menyentuhnya serta menegur pelaku agar tidak melakukannya lagi. Ajarkan anak membedakan mana sentuhan normal dan sentuhan tidak normal. Ajarkan juga bahwa area genital merupakan bagian yang hanya boleh disentuh oleh sang anak itu sendiri dan petugas seperti dokter untuk alasan medis dan selama pemeriksaan medis tersebut pun ia (sang anak) harus di damping oleh orang tua. Pengetahuan ini akan membantu sang anak untuk melindungi dirinya sendiri pada saat orang tua tidak bisa mengawasinya.

2. Pendekatan terhadap terget

Ibarat seseorang menyukai lawan jenisnya, pelaku penjahat seksual pun akan berusaha mendekati dan berpura-pura baik pada anak yang menjadi targetnya sambil mengumpulkan informasi diri sang anak. Pelaku akan menandai tanda-tanda fasial seperti bibir yang cemberut, alis mata yang menaik dan keluhan-keluhannya untuk mengetahui sejauh mana perasaannya terhadap teman-temannya, kakak-adiknya, guru maupun orang tuanya. Rasa sedih dan kebingungan yang dihadapi sang anak membuat pelaku bertindak seolah peduli atas keluhan yang sedang sang anak hadapi. Tujuannya hanya untuk mendapat simpati dan kepercayaan anak agar pelaku semakin bebas mendekati anak. Untuk mendukung aksinya, pelaku memberikan perhatian kepada anak, memberikan hal-hal yang diinginkan anak dan membelikan hadiah-hadiah. Jika anak membutuhkan figur kebapakan atau keibuan, maka pelaku akan melakukannya. Bagi seorang anak, tubuh pelaku yang lebih besar darinya, perhatian serta kepedulian pelaku menimbulkan rasa aman. Dalam psikologi, proses tersebut dikenal sebagai nama transference atau sebuah fenomena dimana anak dengan mudah menerima apa saja yang disampaikan pelaku. Psikolog menerangkan bahwa apabila pelaku penjahat seksual merupakan seorang yang memiliki otoritas atau tokoh yang dihormati seperti guru, pemuka agama atau orang yang dipercayai, maka tingkat transference anak pada pelaku akan semakin tinggi, sementara pelaku akan semakin leluasa atau mudah memperdaya dan menjalankan aksinya.

Sinyal bahaya yang dapat ditandai orang tua di tahap ini ialah sikap dan prilaku dari pelaku yang memperlihatkan bahasa tubuh yang selalu condong tertuju pada anak yang merupakan targetnya. Sinyal yang bisa diamati yaitu sorot mata pelaku yang lekat pada lekuk tubuh anak, terpukau, mirip seperti rusa yang diam terpaku saat tersorot cahaya. Jika Anda sebagai orangtua melihat banyak anak di sekitar tapi pelaku hanya mencurahkan waktu dan akrab dengan anak Anda saja disertai bahasa tubuh yang intim, banyak mengelus, menepuk, condong selalu ingin dekat dengan anak Anda saja, maka Anda patut curiga ada hubungan yang tak wajar yang telah terjalin. Sebaiknya mintalah anak menjaga jarak dengan pelaku dan minta ia melapor segera jika ada sentuhan dan hal-hal yang tidak wajar. Minta pelaku agar tidak menyentuh dan segera menjauh dari anak.

3. Penaklukan target

Sambil tetap menunjukkan kedekatan dan keintiman dengan sang anak, pelaku biasanya selalu menunjukkan sikap yang lebih jelas dan tegas mendominasi anak dengan cara memerintah anak untuk mematuhinya. Di tahap ini, anak menghabiskan waktu lebih banyak dengan pelaku dan pelaku minta anak merahasikan apa yang mereka lakukan. Sekali anak terjebak perangkap si pelaku di tahap ini, maka tahapan pelaku untuk melakukan aksi kejahatan seksual terhadap sang anak akan dengan cepat naik ke tahap selanjutnya.

4. Pemantasan 

Di tahap ini maka akan semakin sulit bagi orangtua untuk melihat suatu hal yang tidak wajar, karena kejadian (aksi kejahatan seksual tahap awal) berlangsung di tempat yang pribadi. Pelaku mulai berani menggerayangi bagian-bagian tubuh sensitif anak disertai ancaman agar anak tidak membocorkan rahasia dengan menakut-nakuti akan menyiksa atau memukulnya. Satu-satunya cara mendeteksi yaitu orangtua harus lebih sering bertanya apakah ada orang yang pernah mencium, mengelus, menggelitik, bermain dokter-dokteran atau mengajak mereka bermain gulat (apabila anak Anda laki-laki). Jika jawabannya ya, ingatkan anak untuk waspada dan Anda sebagai orangtua harus menghadapi pelaku dan melarangnya dengan tegas melakukan hal-hal itu pada anak.

5. Pelecehan 

Saat anak tidak bisa menolak dan merasa ketakutan, pelaku akan leluasa untuk melakukan pelecehan. Saat hal ini terjadi, maka orangtua bisa bertindak menandai sinyal-sinyal anak sebagai korban pelecehan seksual.
Nah, itulah artikel tentang "Cara Melindungi Anak Dari Aksi Kejahatan Seksual". Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, bisa menghubungi Admin di menu yang telah tersedia :) Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa pengaruh yang baik. 
Kata kunci terkait pada artikel ini:

Tips menjauhi anak dari gangguan kejahatan seksual