Friday, November 23, 2018

Anjuran Membantu Dan Menyantuni Kaum Dhuafa

Anjuran Membantu Dan Menyantuni Kaum Dhuafa
Ruh4dian - Kebutuhan manusia tidak terbatas. Sementara, alat pemuas kebutuhan (seperti makanan maupun minuman untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi tubuh, pakaian, tempat tinggal (rumah) dan lain sebagainya) sifatnya terbatas. Sehingga, hal tersebut berkonsekuensi atau berakibat pada distribusi (aspek) kepemilikan alat pemuas kebutuhan yang berbeda-beda.

Ada sebagian orang yang memiliki sebagian besar alat pemuas kebutuhan tersebut, namun ada juga sebagian lainnya yang hanya memiliki sebagian kecil dari alat pemuas kebutuhan tersebut. Adapun mereka yang mempunyai sebagian besar alat pemuas kebutuhan disebut dengan golongan kuat (biasa disebut orang yang dianugerahi kekayaan atau kelebihan harta). Sedangkan sekelompok orang yang memiliki alat pemuas kebutuhan yang sedikit dan hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, ketidakberdayaan, ketertindasan dan penderitaan yang tiada putus disebut sebagai golongan kaum dhuafa. Sehingga sangat perlu untuk menciptakan keadilan dan kebersamaan antar sesama umat manusia, yakni dengan cara bersikap peduli dan senantiasa membantu antar sesama umat manusia, khususnya dalam hal ini ialah perlunya golongan yang kuat atau mampu untuk menyantuni dan membantu kaum dhuafa, yang tentunya hal ini dianjurkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala berdasarkan firman-Nya di dalam Al-Qur'an.

Anjuran membantu kaum dhuafa

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya." (Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 26 dan 27).

Tafsir atau keterangan makna yang terkandung dalam firman Allah tersebut ialah, sebagai berikut.
  • Allah memerintahkan kepada setiap muslim untuk memberikan harta kepada yang berhak. Karena pada hakikatnya harta yang kita miliki adalah dari Allah dan sebagian merupakan hak kerabat dekat, kaum fakir miskin, anak-anak yatim (anak yang ditinggal mati oleh ayahnya dan ia (sang anak) belum mencapai usia baligh), orang-orang yang melakukan perjalanan ziarah (musafir) yang kehabisan bekal, dan lain-lain.
  • Kerabat dekat adalah orang yang pertama mendapatkan hak dari harta kita sebelum yang lainnya.
  • Larangan untuk bersikap boros atau menghambur-hamburkan harta (seperti menggunakan harta dalam berbuat kemaksiatan dan dosa).
  • Pemboros adalah teman-teman atau saudara-saudara setan, sedangkan setan itu sangat ingkar kepada Allah, di antara sifat setan adalah mengingkari karunia (belas kasih) Allah, tidak mau bersyukur atas nikmat Allah, selalu membangkang dan tidak mau taat terhadap perintah Allah serta selalu menggoda manusia agar berbuat ingkar.

Anjuran menyantuni kaum dhuafa

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 177).

Tafsir atau keterangan makna yang terkandung dalam firman Allah tersebut ialah, sebagai berikut.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa kebajikan (amal baik) dan kebaktian bukanlah sekedar menghadapkan wajah ke timur atau barat, akan tetapi harus dibuktikan melalui amal perbuatan. Ciri orang yang benar dalam ayat tersebut adalah:
  • Beriman (mempunyai keyakinan dan kepercayaan) kepada Allah, hari kemudian (hari akhir/kiamat), malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan rasul-rasulnya.
  • Memberikan sebagian harta yang dicintainya kepada kerabat dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya.
  • Mendirikan shalat.
  • Membayar zakat.
  • Menepati janji jika berjanji.
  • Bersikap sabar, baik dalam kesempitan dan penderitaan hidup, dan pada saat peperangan.

Nah, itulah artikel tentang "Anjuran Membantu Dan Menyantuni Kaum Dhuafa". Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, bisa menghubungi Admin di menu yang telah tersedia :) Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa pengaruh yang baik. Wallahu a'lam bisshawab
"Gambar dan isi tulisan di dalam postingan ini diambil dan diperbaharui dari berbagai sumber, mohon maaf apabila terdapat kesalahan, baik itu maksud dari isi postingan ini atau kesalahan apapun. Bijaklah dan selalu belajar untuk mengambil sisi positifnya ya sob!"

Kata kunci terkait pada artikel ini:

Perintah untuk menyantuni dan membantu golongan lemah dalam Islam

Anjuran Membantu Dan Menyantuni Kaum Dhuafa Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Iqbal Ruhadian

0 komentar:

Post a Comment

Apa komentar kamu?