Monday, November 19, 2018

Cara Mencari Pasangan Hidup Sesuai Syariat

Cara Mencari Pasangan Hidup Sesuai Syariat
Ruh4dian - Salah satu keindahan dunia ditandai dengan berpasang-pasangan, sehingga wajarlah apabila ada orang yang belum mendapatkan pasangan kemudian ia merasakan kegelisahan dalam dirinya. Dalam bahasa Al-Qur'an, pasangan (al-azwaad) yang berasal dari diri mereka sendiri (min anfusikum) adalah sepasang manusia, yakni laki-laki dan perempuan. Inilah pasangan dalam kehidupan di dunia.

"Maha Suci Allah yang telah menciptakan berpasang-pasangan segala sesuatu yang dihasilkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri dan dari apa-apa yang tidak mereka ketahui." (Al-Qur'an surat Yaasin ayat 36).

Dalam konteks dunia, pasangan ditandai dengan adanya rasa cinta di antara mereka sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita (lawan jenis)... Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Al-Qur'an surat Ali-Imran ayat 14).

Ketertarikan antara pria dan wanita di luar ikatan pernikahan terbatas pada hubbusysyahawar (hawa nafsu syahwat) semata, yaitu masih pada tahap mahabbah (kecintaan) yang sifatnya lewat pandangan lahir yang tampak, misalnya cantik, tampan, kaya, pintar dan lain sebagainya. Oleh karena itu, bila pria atau wanita sedang dilanda ketertarikan terhadap seseorang, itu merupakan sesuatu yang wajar, hanya saja selanjutnya seorang pria atau wanita itu harus mempersiapkan diri untuk tidak terjatuh ke lembah kenistaan atau maksiat.

Cara mencari jodoh yang tepat sesuai ajaran Islam

Nah, lalu bagaimana cara mencari dan mendapatkan jodoh (pasangan hidup) yang tepat dan tidak melanggar aturan (syariat) Islam? Berikut merupakan pembahasan mengenai cara mencari jodoh sesuai syariat Islam agar (insya Allah) mendapatkan pasangan hidup yang tepat dan terbaik bagi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

Melakukan pencarian calon pasangan oleh anak yang bersangkutan

Hal ini dicontohkan dalam ayat Allah Azza wa Jalla atau Al-Qur'an surat Al-Qashash ayat 26. Dalam ayat tersebut menceritakan dua putri Nabi Syu'aib alaihis salam yang ditolong Nabi Musa alaihis salam ketika memberi minum domba gembalaannya di sebuah telaga. Setelah menerima pertolongan Musa alaihis salam, salah seorang putri Nabi Syu'aib jatuh hati padanya. Maka kepada ayahnya ia menceritakan kejadian tersebut, lalu Nabi Syu'aib alaihis salam meminta agar Musa alaihis salam menghadapnya. Salah seorang putrinya mengusulkan untuk memperkerjakan pemuda itu, kemudian sang ayah memahami keinginan putrinya tersebut, lalu disetujui dan akhirnya mereka menikah.

Orang tua memilihkan untuk anaknya

Seperti yang terjadi dalam hadits, yakni seorang perempuan berkata (kepada Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), "Ayah saya telah menikahkan saya dengan kemenakannya agar dapat meringankan beban dirinya." Perempuan itu lalu berkata, "Saya benarkan apa yang dilakukan ayah saya, tetapi saya ingin agar kaum perempuan tahu bahwa para bapak tidak mempunyai hak sedikit pun dalam urusan ini."

Hadits tersebut menguraikan mengenai seorang ayah yang menjodohkan putrinya dengan lelaki pilihannya. Anak tersebut mengadukan perkaranya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau (shallalllahu 'alaihi wa sallam) menyerahkan keputusannya kepada anak perempuan itu sendiri. Ternyata anak perempuan itu bersedia menerima pilihan orang tuanya. Tetapi, di depan umum wanita ini ingin memberitakan bahwa keputusan menerima atau tidak bukan pada orangtua, anak bisa menolak bila ia tidak setuju. Sikap ini dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Meminta dikenalkan dengan calon pasangannya dengan meminta bantuan mediator atau pihak ketiga

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah mengisahkan seorang ukaf (pemuda) yang berniat membujang, akan tetapi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seorang ukaf tersebut ditegur dan diperintahkan untuk menikah. Kemudian ukaf tersebut mengemukakan bahwa ia tidak akan menikah sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang memilihkan jodoh untuknya. Artinya, ukaf meminta pertolongan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mencarikan istri baginya.

Usaha tambahan

Di samping usaha-usaha di atas, seseorang harus memperkuatnya dengan do'a (silaahul mukmin). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu..." (Al-Qur'an surat Al-Mu'min ayat 60).

Alternatif do'a yang disampaikan misalnya, mohon diberi kedudukan dan keluarga:, yakni sebagai mana di dalam Al-Qur'an surat Al-Furqan ayat 74, "Rabbanaa hablana min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a'yuniwaj'alnaa lilmuttaqiina." Artinya: "Ya Rabb kami anugerahkan kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami yang menyejukkan hati kami dan jadikanlah kami pemuka bagi orang-orang yang bertakwa."

Meminta keturunan sebagai mana di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 128, "Ya Rabb kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

Meminta rezeki untuk keturunan sebagai mana di dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 37 dan 38, "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb (yang demikian iitu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari bbuah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit."

Meminta keturunan yang baik sebagai mana di dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 40, "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Rabb kami, perkenankanlah do'aku."

Tahap pemantapan dalam mencari pasangan

Semua cara yang telah disampaikan di atas dapat dimantapkan dengan melihat calon pasangan terlebih dahulu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seseorang dari kamu yang akan meminang seorang wanita bisa melihat lebih dulu apa yang menjadi daya tarik untuk mengawininya, hendaklah ia melakukannya." (Al-Hadits). Batas aurat tentunya tetap terjaga.

Selain itu pula dengan shalat istikharah. Shalat 2 (dua) rakaat dan waktunya tidak ditentukan. Mengingat betapa pentingnya istikharah, dalam hadits riwayat Muslim dijelaskan bahwa Zainab binti Jahsy melakukan shalat istikharah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melamarnya, padahal yang melamarnya adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah dijamin ketakwaannya.

Meskipun tidak tahu kelak model keluarga macam apa yang akan menjadi rezeki kita, tetaplah ambil keputusan untuk menikah dengan tujuan ibadah, apabila sudah ada yang terpilih dan dia memilih kamu. Tentunya setelah melalui pertimbangan yang masak.
Nah, itulah artikel tentang "Cara Mencari Pasangan Hidup Sesuai Syariat". Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, bisa menghubungi Admin di menu yang telah tersedia :) Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa pengaruh yang baik. Wallahu a'lam bisshawab
"Gambar dan isi tulisan di dalam postingan ini diambil dan diperbaharui dari berbagai sumber, mohon maaf apabila terdapat kesalahan, baik itu maksud dari isi postingan ini atau kesalahan apapun. Bijaklah dan selalu belajar untuk mengambil sisi positifnya ya sob!"

Kata kunci terkait pada artikel ini:

Metode mencari pasangan berdasarkan aturan agama Islam

Cara Mencari Pasangan Hidup Sesuai Syariat Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Iqbal Ruhadian

0 komentar:

Post a Comment

Apa komentar kamu?